Kisah Sayyid Abu Hasan Asy-Sadzili & Gurunya
Kisah Sayyid Abu Hasan Asy-Sadzili & Gurunya Sayyid Al-Kabir Abdus Salam bin Masisy Tentang Pelajaran Adab Sebelum Ilmu
(pembelajaran keilmuan wushulul fadilah) bagi yg punya beruntunglah karena sannad ilmu ini sampai kpd beliau…
Pelajaran Agung tentang Adab Sebelum Ilmu
Dalam tradisi tasawuf, sanad keilmuan tidak hanya diwariskan melalui hafalan dan pelajaran, tetapi melalui adab—tata krama spiritual yang menjadi pintu kemuliaan seorang murid. Para salik yang beruntung adalah mereka yang tersambung sanadnya hingga kepada para wali besar. Salah satu pelajaran paling indah datang dari hubungan antara Sayyid Abu Hasan Asy-Sadzili dan guru beliau, Sayyid Al-Kabir Abdus Salam bin Masisy.
Khidmah yang Menyingkap Martabat Murid
Dikisahkan, suatu hari Sayyid Abdus Salam sedang duduk bersama murid-muridnya. Di samping beliau, Sayyid Abu Hasan Asy-Sadzili duduk sambil memijat kaki sang guru sebagai bentuk khidmah dan penghormatan.
Tiba-tiba sang guru terdiam sejenak, lalu berkata kepada semua murid:
“Kita kedatangan tamu istimewa. Nabi Khidir ‘alaihissalam saat ini telah berada di gerbang depan.”
Mendengar itu, para murid yang lain bergegas berlari menuju gerbang untuk menyambut kedatangan Nabi Khidir AS. Namun satu orang tetap duduk tenang: Abu Hasan Asy-Sadzili.
Melihatnya, sang guru bertanya lembut:
“Wahai Hasan, mengapa engkau tidak menyambut Nabi Khidir AS seperti murid-murid yang lain?”
Sayyid Abu Hasan menjawab dengan adab yang sangat tinggi:
“Wahai guruku, Nabi Khidir AS datang untuk menemuimu. Maka bagaimana mungkin aku melepaskan tanganku dari kakimu? Kedudukanmu sebagai guruku lebih agung bagiku daripada kedatangan beliau.”
Jawaban itu menggugah hati sang guru. Dengan penuh keridhaan beliau berkata:
“Aku tidak akan menerima hadiah Al-Fatihah dari siapa pun kecuali jika disertai dengan nama Abu Hasan Asy-Sadzili. Ini tanda keridhaanku kepadanya.”
Keridhaan guru inilah yang kemudian mengangkat Abu Hasan Asy-Sadzili menjadi salah satu waliyulloh besar yang manfaatnya mengalir hingga hari ini.
—
Adab: Cermin Guru, Cermin Orang Tua
Seorang murid harus sadar bahwa segala tindak tanduknya mencerminkan didikan orang tuanya dan gurunya. Seorang murid harus paham betul bahwa tindak tanduknya di pandang oleh orang lain sebagai hasil didikan dari orang tuanya ( orang tua kandung dan guru ) bahkan ada yg memandangnya sebagai tamtsil ( murid adalah perumpamaan sang guru ), makanya banyak nama guru yg harum karena seorang murid, dan tdk sedikit murid yg merusak nama baik seorang guru dari perilaku dan perbuatannya.
Ilmu tanpa adab jadi hilang ilmunya tanpa bekas ( -atsar-) dan tdk bermanfaat, bahkan bukan lagi tidak bermanfaat, namun bisa jd mudharat yg bisa menimbulkan sombong, maghrur dan lain sebagainya. Maghrur itu tertipu menganggap dirinya lebih baik dan lebih mulia dari yang lain.
Para imam besar mengingatkan:
Imam Malik RA:
“Belajarlah adab sebelum belajar ilmu.”
Ibnu Mubarak:
“Kami mempelajari adab selama 30 tahun, baru kemudian mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Sufyan Ats-Tsauri:
“Anak-anak tidak dikirim untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan beribadah selama 20 tahun.”
Kemuliaan guru seperti orang tua dan sangat penting harus di fahami bahwa rahasia dunia ada pada kedua orang tua, sedang rahasia akhirat ada pada tangan guru
“Lawlā Murabbī, mā ‘araftu Rabbī.”
“Jika bukan karena guruku, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku.”
—
Empat Golongan Murid
Mengutip dari pengendikan beliau Abuya Sayyid Muhammad Alwy Al Malik :
طالب العلم على أربعة
١. طالب ذكي مجتهد وخدوم
٢. طالب خدوم وغير ذكي
٣. طالب ذكي وغير خدوم
٤. طالب ليس بذكي ولا خدوم
فأحسنهم الأول ، والأخير أسوؤهم
1. Santri yang Cerdas, tekun, dan mau berkhidmah
—inilah yang terbaik.
2. Santri yang Mau berkhidmah tetapi tidak terlalu pandai
—masih termasuk murid yang baik.
3. Santri yang Cerdas tetapi tidak mau berkhidmah
—kurang baik.
4. Santri yang Tidak cerdas dan tidak mau berkhidmah
—yang paling buruk.
Bagi mereka yang belum mampu mencapai kategori pertama, setidaknya berusahalah berada pada kategori kedua: berkhidmah. Sebab lewat khidmah, seorang murid belajar adab, belajar merendah, dan belajar menata hati di hadapan gurunya.
Yang perlu diwaspadai adalah khidmah lahir tanpa keterhubungan batin. Kedekatan fisik tidak menjamin kedekatan hati; terkadang justru menimbulkan perasaan inkar. Semoga Alloh SWT menjauhkan kita dari keadaan itu…Naudzu billahi min dzalik
—
Penutup
Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa adab adalah mahkota ilmu. Dengan adab, ilmu menjadi cahaya. Dengan adab, guru menjadi wasilah menuju Alloh SWT.Dan dengan adab, seorang murid dapat mencapai maqam para kekasih-Nya.
Bijāhi Murabbī Rūḥinā… Al-Fātiḥah.
Penulis :
— Santri DU’A—








