Cerita Sufi Tentang Rezeki
Suatu petang, Syekh Abuyazid al-Bustami berjalan seorang diri melintasi padang pasir tandus di luar Bastam. Sudah tiga hari beliau tidak makan. Perutnya kosong, bibirnya kering, namun wajahnya tetap teduh.
Dalam sunyi itu, tiba tiba terdengar suara rengekan kecil. Di bawah pohon akasia kering, seekor burung kecil terbaring dengan sayap patah dan bulu kusut. Syekh Abuyazid mendekat dan duduk di sampingnya.
“Wahai makhluk Allah yang kecil, engkau pasti lapar dan haus,” ujarnya lembut.
Kemudian Beliau mengeluarkan sepotong roti kering sebesar ibu jari—bekal terakhir yang disimpannya. Roti itu diremukkan dan diletakkan di depan burung itu. Sang burung segera mematuknya hingga habis, lalu menatap Syekh Abuyazid seakan berterima kasih.
Tak lama kemudian, terdengar derap unta dari arah timur. Seorang pemuda badawi turun dan memberi salam hormat.
“Ya Imam,” katanya, “Semalam aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Baginda memerintahkanku mencari Syekh Abuyazid di padang pasir dan memberikan semua bekal ini kepadanya—roti, kurma, susu, uang, bahkan air zam-zam.”
Syekh Abuyazid tersenyum haru.
“Wahai anakku, engkau datang terlambat tiga hari. Rezekiku sudah tiba lebih dahulu.”
Pemuda itu bingung.
“Di mana rezekimu, wahai Syekh?”
Syekh Abuyazid kemudian menunjuk ke burung kecil yang kini tampak lebih segar.
“Itulah rezeki pertama yang datang. Aku memberinya roti terakhirku, dan Allah menggantinya melalui tanganmu. Rezeki bukan semata apa yang masuk ke perut, tetapi apa yang kita lepaskan.”
Saat itu, burung kecil tersebut tiba-tiba mengepakkan sayapnya—yang kini sembuh—dan terbang tinggi berputar tiga kali di atas Syekh Abuyazid sebelum menghilang di langit senja.
Malam harinya, setelah menerima pemberian sang pemuda Badawi, Syekh Abuyazid makan sekadarnya lalu membagikan seluruh bekal dari pemuda itu kepada fakir miskin Bastam.
Ketika murid-muridnya bertanya mengapa ia tidak menyimpan sebagian untuk esok hari, beliau menjawab:
“Rezeki seperti air sungai.
Bila digenggam, ia hilang.
Bila dibiarkan mengalir, ia datang lebih banyak. Orang yang takut kehabisan rezeki sebenarnya menahan rahmat Allah.”
Sejak itu, setiap ada yang mengadu tentang kesempitan rezeki, Syekh Abuyazid hanya melempar satu pertanyaan:
“Roti terakhirmu, sudah kau berikan kepada siapa?”
Bagi Syekh Abuyazid,
Pintu rezeki terbesar bukan hanya terbuka dari langit, tapi dari hati yang tidak takut kosong.
Wallohu A’lam.








