Jejak Histori KH. Musta’in Romli
Beliau sugeng kira-kira 1920-1984. Setelah ayahnya wafat, Kiai Musta’in memangku Pesantren Darul Ulum Peterongan, Rejoso (Jombang) dan Syaikh tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang memiliki puluhan ribu pengikut di Jawa Timur. Kiai Romli bin Tamim, meninggal dunia pada 1958, dia menggantikan kedudukan ayahnya baik sebagai kiai maupun syaikh tarekat. Baik Kiai Romli maupun Kiai Musta’in sama-sama tidak punya jabatan formal di NU, kecuali pada tingkat lokal.
KH Musta’in Romly lahir di Rejoso pada tanggal 31 Agustus 1931. Sejak kecil ia mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya. Dan baru tahun tahun 1949 M melanjutkan studi di Semarang dan Solo di Akademi Dakwah Al Mubalighoh, diperguruan ini bakat kepemimpinannya menonjol sehingga pada waktu singkat mengajak sahabat-sahabatnya yang berasal dari daerah Jombang mendirikan Persatuan Mahasiswa Jombang. Studi di Lembaga ini diakhiri pada tahun 1954 M.
Pada tahun 1954 M beliau aktif di Nahdhatul Ulama Jombang tempat asalnya dan kemudian menjadi pengurus IPNU Pusat tahun 1954 sampai 1956. Upaya menerpa diri untuk lebih matang sebagai pimpinan Pondok Pesantren, KH Musta’in Romli banyak beranjang sana ke berbagai pondok pesantren dan lemnaga pendidikan pada umumnya. Mulai tingkat nasional sampai internasional. Dalam kaitan inilah pada tahun 1963 M beliau Muhibbah ke Negara-negara Eropa dan Timur Tengah, yang huga berziarah ke makam Syeh Abdul Qodir Al Jailani tokoh pemprakarsa Thoriqoh Qodiriyah, di Irak.
Hal ini penting mengingat beliau adalah Al Mursyid Thariqah Qodiriyah Wannaqsabandiyah mewarisi keguruan KH Romly Tamim dam KH Cholil Rejoso. Oleh-oleh dari kunjungan muhibbah ini antara lain yaitu mendorong berdirinya Universitas Darul Ulum pada tanggal 18 September 1965. Universitas Darul Ulum sendiri diprakasai Dr KH Musta’in Romli, KH Bhisry Cholil, K. Ahmad Baidhowi Cholil, Mohammad Wiyono (mantan Gubernur Jatim), KH Muh. As’ad Umar dan Muhammad Syahrul, SH. Untuk melengkapi keabsahan KH Musta’in Romli sebagai Rektor, pada tahub 1977 beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Macau University. Pada tahun 1981 lawatan ke Timur Tengah dilakukan kembali dengan hasil kerjasama antara Universitas Darul Ulum dan Iraq University dalam bentuk tukar-menukar tenaga edukatif, dan dengan Kuwait University dalam bentuk beasiswa studi ke Kuwait.
Pada tahun 1984 KH Musta’in berkunjung ke Casablanka, Maroko, tepatnya pada bulan Januari 1984, yaitu mengikuti Kunjungan Kenegaraan bersama Wakil Presiden RI Bapak Umar Wirahadi Kusuma dan Menteri Luar Negeri RI Bapak Prof. Dr. Muchtar Kusumaatmadja dalam acara Konverensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kunjungan ini dilanjutkan ke Perancis dan Jerman Barat. Selanjutnya pada bulan Juli dengan tahun yang sama, KH Musta’in mengikuti Konferensi antar Rektor se- dunia di Bangkok.
Semua kunjungan dijalani KH Musta’in dengan tekun demi kelembagaan Pendidikan yang dialamatkan beliau, yaitu Lembaga Pondok Pesantren Darul Ulum, Lembaga Thariqah Qoddiriyyah Wannaqsabandiyah dan Universitas Darul Ulum. Sampai wafat pada tanggal 21 Januari 1985, beliau meninggalkan putra-putri M. Rokhmad (almarhun), H. Luqman Haqim dari Ibu Chafsoh Ma’som, Hj Choirun Nisa’ dari Ibu dzurriyatul Lum’ah, H. Abdul Mujib, Ahmada faidah, Chalimatussa’diyah dari Ibu Nyi Hj Djumiyatin Musta’in serta Siti sarah dan Dewi Sanawai dari Ibu Ny. Hj. Latifa.
Adapun jabatan yang pernah diamanahkan kepada Dr. KH Musta’in Romly adalah:
Aggota DPR – MPR RI tahun 1983 sampai wafat.
Wakil ketua DPP MDI tahun 1984 sampai wafat.
Rektor Universitas Darul Ulum tahun 1965 sampai wafat.
Al Mursyid Toriqoh Qodiriyah Wannaqwsabandiyah tahun 1958.
Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum tahun
1958 sampaiwafat.
Anggota BKS Perguruan Tinggi Swasta tahun 1983 sampai wafat.
Anggota IAUP ( International Association of University President ) 1981 di
Chicago.
Ketua Umum Jam’iyah Thoriqot Mu’tabaroh Indonesia pada tahun 1975 sampai wafat.au
“MERABA IJTIHAD POLITIK DR. KH MUSTA’IN ROMLY (MURSYID DUNIA AKHERAT)”
Membincangkan sosok ini teringat dengan adigium jawa yang berbunyi “wani ora usum”, ditengah budaya latah dan haus akan pencitraan pada manusia maka meneladani beliau memberikan pelajaran hidup tentang ikhlas dan cita-cita. Beliau dikenal sebagai kyai yang kontroversial pada zamannya, terutama sikap politiknya yang bersebrangan dengan arus politik warga nahdliyin, dimana beliau juga sebagai tokoh dalam organisasi Jamiyah tersebut.
Bagi penulis, beliau tidak hanya sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriah wa Naqsabandiyah, tapi lebih dari itu beliau adalah buku hidup pelajaran politik yang wajib menjadi acuan dalam melangkah dan bergerak.
Lahir dalam keluarga pesantren dan dibesarkan serta didik oleh ayahandanya Romo KH Romly Tamim di Rejoso Jombang. beliau banyak menimba ilmu di pesantren yang diasuh di pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, Romo KH Romly Tamim adalah seorang Mursyid Thoriqoh Qodiriah wa Naqsabandiyah dan pembuat istighosah yang dibacakan pada waktu pendirian jamiyah Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau lahir pada tanggal 31 Agustus 1931 di Rejoso Jombang, pada tahun 1949 hingga 1954 melanjutkan belajarnya di semarang dan solo di akademi dakwah al mubalighin. Setelah kembali ke Jombang beliau aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan menjadi pengurus IPNU pusat pada tahun 1954 s/d 1956. Beliau memang mempunyai semangat yang besar untuk berorgainsasi, hingga pada tahun 1958 sang ayahanda Romo KH Romly Tamim meninggal dunia dan beliau ditunjuk menggantikan ayahnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren sekaligus Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah dalam usia 27 tahun. Usia yang yang sangat muda untuk menjadi Mursyid sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren. dan babak baru dalam hidup beliaupun dimulai.
Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren, beliau rajin bersilaturahim ke beberapa pondok pesantren baik nasional maupun internasional untuk study banding. Hingga pada puncaknya yakni pada tahun 1963 beliau berkunjung ke timur tengah dan berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir al Jailani di Baghdad. Selain kisah mistik yang penulis tidak berani menuliskan disini, hasil dari ziarohnya tersebut berisi niatan beliau untuk mendirikan sebuah Universitas. Pada tahun 1965 berdirilah Universitas Pertama yang dimiliki sebuah pesantren yang bernama Universitas Darul Ulum. Wani ora Usum, disaat dunia pesantren yang waktu itu hanya fokus pada bidang keislaman, beliau visioner dengan cita-cita mencetak santri yang “berdada masjidil haram, berotak london”. Prestasi beliau yang berhasil membangun sebuah Universitas kemudian diikuti dengan prestasi beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Macau University pada Tahun 1977 sehingga beliau kemudian menduduki jabatan sebagai Rektor Universitas Darul Ulum Jombang.
Dalam kapasitas beliau sebagai Rektor, pada tahun 1981 DR KH Mustain Romly melakukan kunjungan kembali ke timur tengah dan melakukan kerjasama dengan Iraqi University dalam bentuk tukar menukar tenaga pengajar dan dengan Kuwait University dalam bentuk beasiswa studi ke Kuwait.
Selain aktif dalam forum Rektor sedunia seperti yang beliau hadiri pada tahun 1984 di Bangkok, beliau juga beberapa kali mewakili delegasi Indonesia dalam Konfrensi Tingkat Tinggi sidang Organisasi Konfrensi Islam (OKI).
Kiprahnya yang gemilang pada dunia pendidikan dan cita-citanya yang besar pada peningkatan kualitas sumber daya nahdliyin membuat beliau menjadi sosok kyai yang berpengaruh dan disegani, hingga kemudian nama besar itu menjadi kontroversi ketika ijtihad politik beliau yang berbeda dan tidak sejalan dengan mainstream ulama Nahdliyin.
Kita memasuki inti dari tulisan ini, membaca beliau adalah terlalu sulit bagi umum apalagi penulis. Namun mencoba meraba ijtihad politik beliau bukanlah hal yang tabu bukan ?
Pada tahun 1973, DR KH.Mustain Romly menyebrang ke Golkar ditengah arus politik ulama NU yang berafiliasi ke PPP. Kritikan dan hujatan menyertai ijtihad politik beliau yang memilih Golkar (pendukung pemerintah) dan rival dari PPP yang merupakan partai afiliasi warga NU. Beliau mendapatkan “pengucilan” dari para kyai NU yang berada di PPP bahkan sempat ada ketegangan dengan keluarga selatan yang memilih kendaraan politik PPP. Puncaknya pada tahun1977, beliau menjadi Juru kampanye Golkar dan berhasil meyakinkan ribuan jamaahnya untuk memilih dan memenangkan Golkar.
Terjadi gejolak yang luar biasa di kalangan Nahdliyin menyikapi sikap politik dari KH. Mustain Romly, apalagi isu yang dibawah adalah Kyai Mustain Romly berkhianat pada NU dimana Rois am PBNU waktu itu adalah KH Bisri Sjamsuri Denanyar Jombang dan memobilisasi jamaah Thoriqohnya untuk kepentingan Golkar. Sehingga kemudian muncul thoriqoh Cukir (yang berafiliasi dengan PPP) di Cukir Jombang yang dipimpin oleh KH Adlan Ali dan mufaraqah dari thoriqoh Rejoso. Yang mengejutkan pula KH Mustain Romly juga membuat organisasi jamaah Thoriqoh baru yang bernama Jamaah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh Indonesia (JATMI) dimana beliau menjadi Rois Am dengan beberapa generasi emas sesudahnya seperti al mursyid Prof. DR. KhadirunYahya. Organisasi yang semacam tandingan dari organisasi Jamiyah ahli Thoriqohmu’tabaroh an Nahdliyah yang menaungi Thoriqoh Cukir yang cenderung ke PPP seperti halnya organisasi induknya NU, dimana sebelum itu beliau juga telah lama menjadi Rois am nya. Sikap politik beliau menjadi dilema bagi para jamaahnya, bahkan sebagian besar jama’ah yang tidak nyaman dengan situasi tersebut memilih bergabung dengan Kyai Ustman al Ishaqi Surabaya yang tidak berpolitik.
Bagi penulis ada beberapa catatan mengenai sikap dan gerak politik beliau. Ketika ditanya misal mengenai pilihannya pada Golkar dan tidak bergabung di PPP seperti kebanyakan para kyai, Romo Kyai Mustain menjawab dengan enteng “partai politik bukan agama”. Kata sederhana yang menyimpan visi berpolitik beliau yang luar biasa. Beliau mengajarkan bahwa partai itu bukan agama yang suci dan sakral tapi beliau mengajarkan bahwa partai adalah alat perjuangan, atau jika ditafsirkan kembali beliau hendak mengatakan NU bukanlah partai dan NU tidak milik dan hanya untuk orang yang partainya didukung oleh NU saja. Diakui atau tidak, Sikap tegas beliau kemudian mengilhami independensi NU dari politik praktis melalui khittah NU pada tahun 1984 di Situbondo. Dengan jawaban itu sebenarnya ada rencana jauh kedepan yang konkrit tentang masa depan generasi sarungan. Sesuai dengan apa yang pernah disampaikan oleh KH Achmad Siddiq Jember bahwa “NU tidak kemana-mana tapi dimana-mana”, maka tidak heranlah jika harapan besar KH Mustain Romly untuk mendistribusikan potensi kader NU ke beberapa partai politik termasuk pada Golkar theRulling Party dan PDI. Bagi beliau Partai Politik adalah benda mati dan tergantung manusianya yang menjalankan. Oleh karena itu kader NU idealnya harus berkiprah disemua partai untuk mewarnai dan memperjuangkan pemikiran dan cita-cita NU dalam berbagai partai yang ada. Ini bukan isapan jempol belaka, dalam salah satu kisah, beliau pernah memanggil tiga muridnya yang sudahmenjadi Kyai (Kyai mustain memang kyai yang melahirkan banyak kyai, dari mulai kyai tabib sampai kyai politik), kyai pertama diminta untuk bergabung ke PPP sontak kyai itu gembira, kyai kedua diminta ikut berkhidmad ke golkar dan kyai yang dari jawa tengah diminta beliau untuk bergabung ke PDI, sontak kyai itu menangis dan enggan bergabung dalam jamaah orang abangan, tapi setelah diyakinkan maka beliau sendiko pada permintaan gurunya tersebut.
Sikap beliau yang waktu itu memilih Golkar adalah pilihan cerdas walau dengan resiko cacian dan hinaan. Beliau tidak mundur dan gentar dengan cacian itu, sikap yang menunjukkan bagaimana beliau benar-benar ikhlas dalam melangkah, semata hanya pujian tuhan yangselalu beliau minta dan tidak khawatir sedikitpun dengan citra dan pandangan manusia. Pilihan cerdas dengan bergabung dalam Golkar sang penguasa, yang secara logis dan non logis tak akan mampu dikalahkan oleh PPP. Rasionalis sejati karena memang hegemoni Orde Baru dengan Golkarnya sulit untuk dikalahkan. Bagi beliau membiarkan kekuasaan tanpa diisi oleh orang-orang yang baik adalah suatu kebodohan atau jika tidak dikatakan suatu kedzoliman, untuk itu beliau masuk kedalamnya dan membawa kader-kader Nahdliyin yang potensial untuk berkiprah di kekuasaan dengan harapan kedepan semakin banyak orang NU yang tidak hanya bergerak dalam sektor non formal saja tapi juga dalam sektor formal dengan mengisi berbagai posisi strategis yang porsi nahdliyin di titik itu lemah. Masuk dalam kekuasaan lebih baik dari pada berteriak-teriak diluar, dan saat itu melalui pintu Golkarlah kesempatan untuk berbakti pada Negara menjadi lebih besar. Melalui beliau kebijakan tentang pendidikan pesantren dan modernisasi pesantren menjadi wacana yang menguat didalam kebijakan pemerintahan. Di Golkarpun beliau adalah perumus doktrin golkar “karya kekaryaan” dengan nilai dasar perjuangan organisasi.
Melalui sikap keras dan nylenehnya dalam berpolitik yang wani ora usum itu, membuat banyak Nahdliyin berpikir tentang manfaat dan mudharatnya posisi NU dalam politik praktis. Sehingga menguatlah wacana Khittah NU yang diusung oleh Gus Dur yang juga sahabat dari Romo kyai Mustain Romly.
Beliau adalah politikus cerdas melampaui jamannya, pemain politik yang lincah dalam bermanuver. Meminjam kata-kata dari Romo Kyai Abdul Hamid Pasuruan “jika dalam sepak bola saya ini Keeper maka Romo Kyai Musta’in adalah Playmaker”, ya.. beliau adalah playmaker politik yang lincah dengan skill luar biasa, penuh gocekan dan visi bermain yang sempurna.
Sehari sebelum tanggal 1 Jumadil Awal 1405 H atau 21 Januari 1985, beliau berkata pada supirnya “besok disini rame, banyak mentri dan pejabat hadir”, si supir kebingungan karena setahu dia besok tidak ada acara apa-apa di pondok. Benarlah besoknya pondok Darul Ulum Jombang menjadi rame dengan ribuan orang, dan ternyata para mentri dan pejabat yang hadir datang untuk bertakziah dan berbela sungkawa atas wafatnya Romo KH MustainRomly. Beliau meninggal dunia ketika sedang dzikir setelah sholat isya’.
Dalam segala kiprahnya yang panjang dan kontroversial, beliau istiqomah sebagai Mursyid dari sebuah Thoriqoh pada usia yang cukup muda hingga menghadap pada Rabbnya. Seorang yang rela meninggalkan citra suci seorang mursyid dengan terjun ke dunia politik untuk kemajuan nahdliyin dan negara yang ia cintai. Beliau Mursyid Thoriqoh Qodiriah wa Naqsabandiyah dengan sanad :
1. KH Mustain Romly
2. KH Romly Tamim
3. KH Moh. Kholil
4. KH Ahmad Hasbullahibn Muhammad
5. Syekh Abdul Karim
6. Syekh Khatib assambasi
7. Syekh Syamsudin
8. Syekh Moh. Murod
9.Syekh Abdul Fattah
10.Syekh Kamaluddin
11.Syekh Usman
12.Syekh Abdurrohim
13.Syekh Abu Bakar
14.Syekh Yahya
15.Syekh Hisyamuddin
16.Syekh Waliyuddin
17.Syekh Nuruddin
18.Syekh Zainuddin
19.Syekh Syarafuddin
20.Syekh Syamsuddin
21.Syekh Moh. Hattak
22.Syekh Abdul Qodir alJailani
23.Syekh Abu Said alMubarak al Mahzumi
24.Syekh Abu Hasan Alial Hakkari
25.Syekh Abul Faraj alThusi
26.Syekh Abdul Wahid alTamimi
27.Syekh Abu BakarDulafi al Syibli
28.Syekh Abu Qosim alJunaidi
29.Syekh Sarri AsSaqathi
30.Syekh Syekh Ma’rufal Khurki
31.Syekh Abul Hasan Alibin Musa ar Ridho
32.Syekh Musa al Kadzim
33.Sayyid Ja’far Soddiq
34.Sayyid Muhammad alBaqir
35.Sayyid Zainal Abidin
36.Sayyidina Husein
37.Imam Ali bin AbiThalib KWA
38.Kanjeng NabiMuhammad SAW
lahumulfatihah…
Tidak ada komentar








